Minggu, 07 Agustus 2016

Bangkrut

Malam ini aku membaca terusan buku yang belum kuselesaikan berjudul Sentuhan Hati Melalui Kultum, lalu terpikir lagi olehku pikiran-pikiran negatif itu yang aku takutkan terjadi kepadamu, Ya Rabbku... aku tidak ingin menuduh dia macam-macam, 
Rabbku... semoga itu tidak terjadi kepadanya, semoga dia lebih baik saat tidak bersamaku, 
Rabbku... Engkaulah yang memilikinya, 
Rabbku... jagala dia selalu untuku. 
Aamiin yaRabbal alamin.



Allah berfirman dalam Al-Quran pada surat Al-Qiyamah ayat 36:
Apakah manusia mengira, bahwa ia dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban) ?

Dan pada surat Thaha ayat 15:

Sesungguhnya hari kiamat akan datang, (dan) Aku merahasiakan (waktunya) agar tiap-tiap diri dibalas denngan apa yang diusahakannya.





Suatu hari Rasulullah saw. bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”
Salah seorang sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta.”
Nabi berkata: “Sesungguhnya orang yang bangkrut di umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, zakat, hajinya ataupun wakafnya, tetapi ketika pahala-pahala itu akan ditimbang, datanglah orang-orang yang mengadu, ‘Ya Allah, dahulu ia pernah menuduhku berbuat sesuatu, padahal aku tidak pernah melakukannya.’ Kemudian Allah menyuruh agar ia membayar orang yang mengadu itu dengan sebagian pahalanya. Kemudian datang lagi orang lain yang mengadu, Ya Allah, ia pernah mengambil hakku dengan sewenang-wenang.’ Lalu Allah menyuruhnya lagi membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu. Setelah itu datang lagi orang yang mengadu, sampai akhirnya seluruh pahala shalat, puasa, zakat dan hajinya itu habis dipakai membayar orang-orang yang pernah haknya ia rampas, yang pernah ia sakiti hatinya ataupun yang pernah ia tuduh tanpa alasan yang benar. Kini tidak ada lagi pahalanya yang tersisa, semuanya telah habis dipakai membayar hutang atas kelakuan zalimnya pada waktu ia hidup di dunia. Sementara itu, ternyata orang yang mengadu masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukannya pada orang itu di dunia dahulu. Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiliki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati saudara-saudaranya.”

“Hidup ini adalah suatu bagian dari mata rantai perjalanan yang harus dilalui manusia, yaitu bermula dari alam roh lalu menuju alam janin, kemudian alam dunia, lalu masuk ke dalam alam kubur, dan terakhir menetap abadi di akhirat. Orang yang bijak akan menabung bekal sebanyak-banyaknya agar di akhir perjalanan nanti ia dapat bersenang-senang. Ia mengerti benar, bahwa tempat bersenang-senang itu bukan di perjalanan, tetapi nanti bila sampai di tujuan. Orang bijak itu tidak mau memanggul bekalnya sendirian, ia titipkan bekal-bekalnya kepada orang lain sehingga ia dapat menempuh perjalanan ini tanpa repot-repot diganduli oleh perbekalanya.”
(Ali bin Abi Thalib)

Ketika para sahabat yang lain bertanya kepada sayidina Ali, “Wahai Ali, bagaimanakah caranya menitipkan bekal pada orang lain itu?”

Sayidina Ali pun menjawab, “Ketahuilah bahwa tidak ada hutang yang tidak dibayar. Bila seseorang menyakiti hatimu, maka ia harus membayar dengan pahalanya. Begitu juga bila seseorang memfitnahmu maka ia harus membayar perbuatan jahatnya itu dengan pahalanya. Atau, bila seseorang yang berhutang padamu dan ia tidak mau membayar hutangnya itu, kelak ia harus membayarnya dengan pahalanya. Pokoknya, kezaliman orang terhadapmu, pada hakikatnya adalah tambahan pahala bagimu. Begitulah caranya menitipkanbekal kita pada orang lain.”


Memang terdengar sangat sepele, maka dari itu mari kita hilangkan sikap suka mencaci , menyakiti dan menuduh sesama agar kita tidak menjadi orang yang bangkrut di akhirat dan semoga Allah SWT tidak menjadikan kita sebagai orang yang bangkrut di akhirat. Aamiin....

Jumat, 05 Agustus 2016

Sholat Subuh Qunut dan Tidak Qunut

Sholat Subuh: Qunut, Tidak Qunut, Kadang Qunut Kadang Tidak?

Bismillah,

Setelah hijrahnya sahabat-sahabat saya dirumah, ada beberapa sahabat saya yang bertanya tentang qunut sholat subuh setelah mereka terbiasa melaksanakan solat subuh berjamaah di mesjid dan kebetulan sekali di Masjid komplek kami imamnya berganti-ganti, ada yang memakai qunut dan ada yang tidak. Timbulah pertanyaan tersebut, walaupun saya awam tapi saya mencoba menjawab dengan apa yang telah saya dengar di ceramah Ustad Khalid Basalamah tentang qunut, saya menjawab, sebenernya  kita tinggal mengikuti imam saja, gausah dibawa susah, sama-sama bener ko, tapi saya menambahkan, saya tetap membaca qunut jika imam tidak membaca. Mengapa? Karena saya mengikuti ayah saya yang mengikuti mayoritas jamaah di Indonesia yaitu NU yang menyunahkan qunut, lagian waktu itu saya berpikir sunnah itu dikerjakan mendapat pahala, tidak dikerjakan tidak apa-apa, ya saya mengikuti ayah saya aja, hehehe. 
Dulu juga saya pernah bertanya-tanya tentang qunut ini ketika saya mulai solat berjamaah di masjid, kemudian setelah itu saya banyak membaca, dan bertanya-tanya juga kepada ayah saya. Memang salah satu perdebatan yg mungkin tidak akan pernah berakhir di kalangan kaum muslim (terutama di Indonesia) adalah mengenai qunut. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi qunut ini? Apakah harus ber-qunut? Atau tidak ber-qunut sama sekali? Atau kadang qunut kadang tidak?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita baca dulu 2 artikel lama yg telah saya baca dan saya  saya simpan dari halaman berikut ini.

Toleransi Kunut di Bandara

Author: MOH MAHFUD MD

Jumat, 18 Agustus 2013, pekan lalu karena harus terbang ke Pontianak dengan penerbangan terpagi, saya harus melakukan salat subuh di Bandara Soekarno-Hatta.

Saat melakukan salat subuh di Garuda Lounge, terasa ada tepukan ringan di bahu, pertanda ada seseorangyangakanikutsalatsebagai makmum. Maka itu, saya memosisikandirisebagaiimam, salatsubuh berdua dengan orang itu. Setelah salat dan berdoa sendiri-sendiri, saya tinggalkan musala kecil itu dan duduk di ruang tunggu sambil meminum teh dan menyarap kue-kue kecil. Tiba-tiba orang yang tadi bermakmum salat subuh kepada saya bergabung duduk di kursi di depan saya.

”Pak Mahfud saat mengimami salat subuh kok tidak berkunut? Pak Mahfud, kan orang NU?” tanya orang yang ternyata mengenal saya itu. Setelah merenung sejenak saya menjawab, ”Karena saya mengira Bapak orang Muhammadiyah, saya tidak berkunut. Kalau mengimami salat orang Muhammadiyah, saya tidak berkunut karena tidak ingin memaksa orang ikut berkunut. Kalau salat di rumah atau di mesjid-mesjid NU, saya selalu berkunut.

Orang itu kemudian menjawab sambil tertawa, ”Hahaha, sejak kecil saya selalu berkunut. Saya ini pengikut Tarekat Syattariyah makanya saya tadi siap berdoa kunut bersama Pak Mahfud.” Kemudian kami menyamakan permakluman dan pemahaman bahwa saya tak berkunut saat mengimami salat karena tak mau memaksa orang ikut berkunut terhadap orang yang tak biasa berkunut. Berkunut atau tidak berkunut salat tetap sah sebab soal pilihan berkunut atau tidak adalah masalah furu’ yang kecil dalam beribadah.

Orang itu kemudian memperkenalkan diri sebagai orang yang bernama Refrizal, anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pagi itu, sama dengan saya, Pak Refrizal akan terbang ke Padang dengan penerbangan pertama sehingga harus bersembahyang subuh di bandara. Saya sungguh tidak pernah mengira pagi itu saya dapat bertukar cerita dengan Pak Refrizal tentang apa yang kami alami bersama saat salat subuh itu dengan mengenang cerita salat subuhnya KH Idham Cholid yang ketua PBNU bersama Buya HAMKA yang tokoh Muhammadiyah.

Cerita itu sering saya dengar saat saya masih menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Bagaimana ceritanya? Pada suatu hari Buya HAMKA dan KH Idham Cholid melakukan salat subuh berjamaah dan yang menjadi imamnya adalah Idham Cholid. Ternyata Idham Cholid tidak membaca doa kunut sehingga seusai salat HAMKA bertanya, mengapa Pak Idham yang ketua umum NU tidak berkunut saat mengimami salat subuh.

Apa jawab Idham Cholid? ”Saya tidak membaca doa kunut karena yang menjadi makmum adalah Pak HAMKA yang tokoh Muhammadiyah. Saya tak mau memaksa orang yang tak berkunut agar ikut berkunut,” jawab Idham Cholid. Beberapa hari kemudian giliran Idham Cholid yang menjadi makmum salat subuh dan HAMKA yang menjadi imamnya. Ternyata saat salat subuh itu HAMKA membaca doa kunut yang panjang dan fasih. Seusai salat Idham Cholid pun bertanya, mengapa HAMKA yang tokoh Muhammadiyah berkunut saat mengimami salat.

”Karena saya mengimami Pak Idham Cholid, tokoh NU yang biasa berkunut kalau salat subuh. Saya tak mau memaksa orang yang berkunut untuk tak berkunut,” jawab HAMKA. Cerita tentang salat subuh berjamaah antara Idham Cholid dan HAMKA sangat berkesan bagi saya sebagai contoh mulia dalam toleransi dan saling menghargai.

Di masa lalu, dan mungkin masih ada sampai sekarang, sering terjadi pertengkaran bahkan permusuhan hanya karena soal-soal kecil antara orang-orang NU dan orangorang Muhammadiyah seperti soal kunut, melafalkan niat dengan nawaitu atau usalli, tahlilan, ziarah kubur, dan sebagainya. Padahal itu semua sama sekali tidak menyangkut ihwal prinsip dalam akidah, tapi hanya menyangkut ihwal yang sunah atau mubah, bukan terkait haram atau mubah.

Kita bersyukur bahwa pada saat ini, setelah puluhan tahun HAMKA dan Idham Cholid mencontohkan, pertengkaran dalam soal-soal furu’ di kalangan muslimin di Indonesia sudah sangat berkurang. Karena membaiknya pengertian atas masalah-masalah substansi keislaman, sekarang ini sudah jauh lebih banyak warga NU dan Muhammadiyah yang tidak lagi bertengkar dalam soal-soal furu’ (cabang kecil).

Mereka sudah bisa melihat dan menyikapi dengan biasa perbedaan-perbedaan yang remeh-temeh itu. Toleransi dalam urusan beragama seperti itu sungguh menyejukkan dan bisa membuat kekuatan besar untuk bersama- sama membangun kemaslahatan umum. Toleransi seperti itu menjadi penting pula untuk dikuatkan bukan hanya di internal satu agama, melainkan dalam hubungan antarpemeluk agama yang berbeda.

Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ikainiakan menjadi lebih cepat maju kalau rakyatnya menghayati agamanya dengan penuh toleran. Beragama dengan benar tentulah menimbulkan kedamaian di hati dan kerukunan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kalau Anda merasa tidak damai, resah, atau marah terhadap orang lain yang berbeda keyakinan dengan Anda sehingga kita tidak bisa tidur nyenyak, kita salah dalam beragama.


Rabu, 03 Agustus 2016

Lebih Banyak Bintang di Langit Ataw Ikan di Laut ?

Pada suatu hari, Raja Harun Ar Rasyid kelihatan murung sekali karena beliau memiliki pertanyaan dan para menterinya belum ada yang mampu mnenjawabnya dengan tepat.

Akhirnya berimbas suasana istana terlihat sunyi senyap karena rajanya sedang termenung memikirkan dua pertanyaan sang raja. Semuanya telah berusaha dengan keras, naman jawaban dari pertanyaan raja belum juga ketemu.

Baginda raja sangat ingin tahu jawabannya. Mungkin karena rasa penasaran, penasehat kerajaan menyarankan untuk memanggil Abu Nawas untuk memecahkan teka-teki yang membingunkan ini.

Karena dua pertanyaan ini, baginda raja tak dapat tidur karena kepikiran dengan keingintahuannya untuk menyingkap fenomena alam tersebut.

Abu Nawas akhirnya jadi dipanggil dan menghadap sanga raja.
"Tuanku yang mulia, sebenarnya rahasia alam yang manakah yang Paduka maksudkan?" tanya Abu Nawas.

"Aku memanggilmu untuk menemukan jawaban dari dua teka-teki yang selama ini menggoda pikiranku, "kata raja.
"Bolehkah hamba mengetahui dua teka-teki itu, wahai Paduka?" tanya Abu Nawas.
"Yang pertama, dimanakah sebenarnya batas jagad raya ciptaan Tuhan kita itu?" tanya raja.
"Di dalam pikiran wahai Paduka yang mulia, "jawab Abu Nawas.
"Kenapa bisa begitu?" tanya raja.
"Tuanku, ketidakterbatasan itu ada karewna adanya keterbatasan. Dan keterbatasan itu ditaqnamkan oleh Tuhan di dalam otak manusia. Dari itu, manusia tidak akan pernah tahu dimana batas jagad raya ini. Sesuatu yang terbatas tentu tak akan mampu mengukur sesuatu yang tidak terbatas, "jelas Abu Nawas.

Raja mulai tersenyum karena merasa puas mendengarkan jawaban Abu Nawas yang masuk akal. Kemudia, Baginda melanjutkan dengan teka-teki yang kedua.

"Wahai Abu Nawas, manakah yang lebih banyak, bintang-bintang di langit ataukah ikan-ikan di laut?" tanya raja.
"Ikan-ikan di laut, Paduka, "jawab Abu Nawas.
"Bagaimana kamu memutuskan hal tersebut, apakah kamu pernah menghitungnya?" tanya raja.
"Paduka yang mulia, bukankah kita semua tahu bahwa ikan-ikan itu setiap hari ditangkap dalam jumlah yang besar, namun seolah-olah jumlah mereka tak berkurang sama sekali. Sementara bintang-bintang tak pernah diambil, jadi jumlah tetap saja," jelas Abu Nawas.
Seketika rasa penasaran Baginda raja sirna atas jawaban yang diberikan oleh Abu Nawas.

Orang Saleh dan Pria Pemabuk


Pada suatu ketika, nabi Musa akan menemui Allah di bukit Sinai. Seorang yang sangat saleh mengetahui hal tersebut dan mendatangi nabi Musa. Ia berkata, “Wahai nabi Allah, selama hidup ini saya telah berusaha menjadi orang yanga baik dengan shalat, puasa, haji dan kewajiban beragama lainnya. Saya banyak menderita karenanya, namun itu tak masalah. Saya hanya ingin tahu apa yang Allah akan berikan kepadaku nanti. Tolong tanyakan kepadaNya”
Nabi Musa menyanggupi permintaan salah satu orang saleh tersebut lalu meneruskan perjalanan menuju bukit Sinai. Di tengah perjalanan, beliau terhenti karena ada pemuda pemabuk di pinggir jalan. Pemuda itu bertanya akan kemana nabi Musa. Ketika nabi Musa menjawab akan bertemu Allah di bukit Sinai, pemabuk itu berkata:
“Aku adalah peminum, aku tidak pernah shalat, tidak puasa, atau amalan shaleh lainnya, tanyakan kepada Allah apa yang dipersiapkan untukku oleh-Nya nanti.”
Nabi Musa menyanggupi permintaan yang cukup aneh tersebut untuk menyampaikannya kepada Allah. Sekembalinya dari Sinai, ia menyampaikan jawaban Allah untuk orang saleh tersebut. Allah memberikan pahala besar dan hal yang indah-indah. Si orang saleh tersebut menanggapi biasa saja dan ia mengatakan bahwa ia telah menduga hal tersebut. Sedangkan ketika bertemu si pemabuk, nabi Musa menyampaikan bahwa pemuda itu akan diberikan tempat yang paling buruk. Ketika mendengar ucapan nabi Musa, pemabuk itu berdiri dan justru menari-nari dengan riang gembira.
Nabi Musa pun heran, kenapa pemabuk itu justru gembira, padahal ia dijanjikan tempat yang paling buruk. Beliau bertanya kepada pemabuk itu, ada apa gerangan hingga segembira itu.
“Alhamdulillah. Saya tidak peduli tempat mana yang telah Tuhan persiapkan bagiku. Aku senang karena Tuhan masih ingat kepadaku. Aku pendosa yang hina-dina. Aku dikenal Tuhan! Aku kira tidak seorang pun yang mengenalku,” jawab pemabuk itu dengan rasa bahagia yang terpancar di wajahnya.
Namun setelah beberapa waktu, nasib keduanya pun berubah, justru orang yang saleh berada di neraka dan si pemabuk berada di surga. Nabi Musa yang takjub bertanya kepada Allah, demikian jawaban Allah:
“Orang yang pertama dengan segala amal salehnya tidak layak memperoleh anugerah-Ku karena anugerah tidak dapat dibeli dengan amal saleh. Orang kedua itu membuatKu senang karena ia senang dengan apapun yang Aku berikan kepadanya. Senangnya karena pemberian-Ku menyebabkan Aku senang kepadanya”
Dari cerita diatas, ada beberap hal yang bisa kita pahami. Bukan berarti seorang yang tidak taat beribadah bisa masuk surga, sama sekali bukan itu. Namun sikap bersyukurlah yang disukai oleh Allah. Selain itu sikap berpuas diri dan menganggap diri pantas menerima anugrah dari Allah justru dapat menjerumuskan kita kepada api neraka karena sama saja memperjualbelikan amal ibadah kita dengan balasan dari Allah. Demikian dalam suatu cerita pasti terkandung hikmah bagi orang-orang yang mau berpikir. (iwan)

http://ervakurniawan.wordpress.com/2011/11/16/ridha-ilahi/

Selasa, 02 Agustus 2016

TUGAS AKHIR BERNAMA SKRIPSI

Malam ini terfikir olehku, seharusnya kuliahku sudah beres. Malang memang malang, bukan nama kota, tapi nasibku. hahahaha. Niat benerin nilai-nilai C di semester genap, tapi malah terbengkalai. hahahaha penyesalan emang selalu datang terlambat. Lalu munculah pertanyaan, mau kapan beres jika di semester 9 ini aku masih belum mulai menyusun?

Tak terasa sudah 4 tahun aku berada dikampus biru ini. Ospek, pesantren, perkuliahan, UTS, UAS, KKL seharusnya bisa dilewati begitu saja, emang kurang sungguh-sungguh aja kali ya, kurang-kurangin gar lah hahaha.

Kembali lagi ke bahasan awal, ya skripsi adalah istilah yang digunakan di Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana S1 yang membahas suatu permasalahan/fenomena dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku. (wikipedia)

Kehidupan baru sebagai remaja baru lulus SMA sampai matang sebagai sarjana yang siap menyambut dunia kerja, dulu aku berpikir itu saat aku lulus SMA tentang kuliah, laaah sekarang? Timbul lagi pertanyaan kedua, kapan mau jadi sarjana? Mari kita doakan yang terbaik, omat budayakan yang terbaik. Lalu

Untuk kamu yang menunggu disana, sabar ya, secepatnya kubawa keluargaku menuju rumahmu. Kuliah dulu beresin euuuuuy!!!!!

Kuliah itu kaya naik gunung, makin tinggi makin nyesek. Tapi pemandangan di puncak selalu lebih indah daripada di lembah!

Puncak Gunung Merbabu 2Juni 2015

Untuk naik gunung aku sudah merasakan berada di puncak, sekarang tinggal kuliah, hahahaha. Nazar adalah nazar, saat aku berhasil menginjakan kaki di puncak Gunung Merbabu tahun lalu, aku bernazar karena aku diberi kenikmatan yang indah, dan itulah nazarku. Maka harusnya di tahun 2016 ini aku menyusun skripsi. Aku yakin nazar ada hukumnya, dalilnya juga pasti, biar besok kita baca bab nazar.Oke, kita lihat saja, budayakan doakan yang terbaik, omat yang terbaik!


Bismillah, Allahuma Yassir Wala Tu'assir

Disqus Shortname

Comments system