Sholat Subuh: Qunut, Tidak Qunut, Kadang Qunut Kadang Tidak?
Bismillah,
Setelah hijrahnya sahabat-sahabat saya
dirumah, ada beberapa sahabat saya yang bertanya tentang qunut sholat subuh
setelah mereka terbiasa melaksanakan solat subuh berjamaah di mesjid dan
kebetulan sekali di Masjid komplek kami imamnya berganti-ganti, ada yang
memakai qunut dan ada yang tidak. Timbulah pertanyaan tersebut, walaupun saya
awam tapi saya mencoba menjawab dengan apa yang telah saya dengar di ceramah
Ustad Khalid Basalamah tentang qunut, saya menjawab, sebenernya kita
tinggal mengikuti imam saja, gausah dibawa susah, sama-sama bener ko, tapi saya
menambahkan, saya tetap membaca qunut jika imam tidak membaca. Mengapa? Karena
saya mengikuti ayah saya yang mengikuti mayoritas jamaah di Indonesia yaitu NU
yang menyunahkan qunut, lagian waktu itu saya berpikir sunnah itu dikerjakan
mendapat pahala, tidak dikerjakan tidak apa-apa, ya saya mengikuti ayah saya
aja, hehehe.
Dulu juga saya pernah bertanya-tanya tentang qunut ini ketika saya
mulai solat berjamaah di masjid, kemudian setelah itu saya banyak membaca, dan
bertanya-tanya juga kepada ayah saya. Memang salah satu perdebatan yg mungkin tidak akan pernah berakhir di kalangan kaum muslim (terutama di Indonesia)
adalah mengenai qunut. Pertanyaannya, bagaimana kita menyikapi qunut ini?
Apakah harus ber-qunut? Atau tidak ber-qunut sama sekali? Atau kadang qunut
kadang tidak?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada
baiknya kita baca dulu 2 artikel lama yg telah saya baca dan saya saya
simpan dari halaman berikut ini.
Toleransi Kunut di Bandara
Author: MOH MAHFUD MD
Jumat, 18 Agustus 2013, pekan lalu karena
harus terbang ke Pontianak dengan penerbangan terpagi, saya harus melakukan
salat subuh di Bandara Soekarno-Hatta.
Saat melakukan salat subuh di Garuda Lounge,
terasa ada tepukan ringan di bahu, pertanda ada
seseorangyangakanikutsalatsebagai makmum. Maka itu, saya
memosisikandirisebagaiimam, salatsubuh berdua dengan orang itu. Setelah salat
dan berdoa sendiri-sendiri, saya tinggalkan musala kecil itu dan duduk di ruang
tunggu sambil meminum teh dan menyarap kue-kue kecil. Tiba-tiba orang yang tadi
bermakmum salat subuh kepada saya bergabung duduk di kursi di depan saya.
”Pak Mahfud saat mengimami salat subuh kok
tidak berkunut? Pak Mahfud, kan orang NU?” tanya orang yang ternyata mengenal
saya itu. Setelah merenung sejenak saya menjawab, ”Karena saya mengira Bapak
orang Muhammadiyah, saya tidak berkunut. Kalau mengimami salat orang
Muhammadiyah, saya tidak berkunut karena tidak ingin memaksa orang ikut
berkunut. Kalau salat di rumah atau di mesjid-mesjid NU, saya selalu berkunut.
Orang itu kemudian menjawab sambil tertawa,
”Hahaha, sejak kecil saya selalu berkunut. Saya ini pengikut Tarekat
Syattariyah makanya saya tadi siap berdoa kunut bersama Pak Mahfud.” Kemudian
kami menyamakan permakluman dan pemahaman bahwa saya tak berkunut saat
mengimami salat karena tak mau memaksa orang ikut berkunut terhadap orang yang
tak biasa berkunut. Berkunut atau tidak berkunut salat tetap sah sebab soal
pilihan berkunut atau tidak adalah masalah furu’ yang kecil dalam beribadah.
Orang itu kemudian memperkenalkan diri
sebagai orang yang bernama Refrizal, anggota DPR RI dari Partai Keadilan
Sejahtera (PKS). Pagi itu, sama dengan saya, Pak Refrizal akan terbang ke
Padang dengan penerbangan pertama sehingga harus bersembahyang subuh di
bandara. Saya sungguh tidak pernah mengira pagi itu saya dapat bertukar cerita
dengan Pak Refrizal tentang apa yang kami alami bersama saat salat subuh itu
dengan mengenang cerita salat subuhnya KH Idham Cholid yang ketua PBNU bersama
Buya HAMKA yang tokoh Muhammadiyah.
Cerita itu sering saya dengar saat saya masih
menjadi mahasiswa di Yogyakarta. Bagaimana ceritanya? Pada suatu hari Buya
HAMKA dan KH Idham Cholid melakukan salat subuh berjamaah dan yang menjadi
imamnya adalah Idham Cholid. Ternyata Idham Cholid tidak membaca doa kunut
sehingga seusai salat HAMKA bertanya, mengapa Pak Idham yang ketua umum NU
tidak berkunut saat mengimami salat subuh.
Apa jawab Idham Cholid? ”Saya tidak membaca
doa kunut karena yang menjadi makmum adalah Pak HAMKA yang tokoh Muhammadiyah.
Saya tak mau memaksa orang yang tak berkunut agar ikut berkunut,” jawab Idham
Cholid. Beberapa hari kemudian giliran Idham Cholid yang menjadi makmum salat
subuh dan HAMKA yang menjadi imamnya. Ternyata saat salat subuh itu HAMKA
membaca doa kunut yang panjang dan fasih. Seusai salat Idham Cholid pun
bertanya, mengapa HAMKA yang tokoh Muhammadiyah berkunut saat mengimami salat.
”Karena saya mengimami Pak Idham Cholid,
tokoh NU yang biasa berkunut kalau salat subuh. Saya tak mau memaksa orang yang
berkunut untuk tak berkunut,” jawab HAMKA. Cerita tentang salat subuh berjamaah
antara Idham Cholid dan HAMKA sangat berkesan bagi saya sebagai contoh mulia
dalam toleransi dan saling menghargai.
Di masa lalu, dan mungkin masih ada sampai
sekarang, sering terjadi pertengkaran bahkan permusuhan hanya karena soal-soal
kecil antara orang-orang NU dan orangorang Muhammadiyah seperti soal kunut,
melafalkan niat dengan nawaitu atau usalli, tahlilan, ziarah kubur, dan
sebagainya. Padahal itu semua sama sekali tidak menyangkut ihwal prinsip dalam
akidah, tapi hanya menyangkut ihwal yang sunah atau mubah, bukan terkait haram
atau mubah.
Kita bersyukur bahwa pada saat ini, setelah
puluhan tahun HAMKA dan Idham Cholid mencontohkan, pertengkaran dalam soal-soal
furu’ di kalangan muslimin di Indonesia sudah sangat berkurang. Karena
membaiknya pengertian atas masalah-masalah substansi keislaman, sekarang ini
sudah jauh lebih banyak warga NU dan Muhammadiyah yang tidak lagi bertengkar
dalam soal-soal furu’ (cabang kecil).
Mereka sudah bisa melihat dan menyikapi
dengan biasa perbedaan-perbedaan yang remeh-temeh itu. Toleransi dalam urusan
beragama seperti itu sungguh menyejukkan dan bisa membuat kekuatan besar untuk
bersama- sama membangun kemaslahatan umum. Toleransi seperti itu menjadi
penting pula untuk dikuatkan bukan hanya di internal satu agama, melainkan
dalam hubungan antarpemeluk agama yang berbeda.
Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ikainiakan
menjadi lebih cepat maju kalau rakyatnya menghayati agamanya dengan penuh
toleran. Beragama dengan benar tentulah menimbulkan kedamaian di hati dan
kerukunan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kalau Anda merasa tidak damai,
resah, atau marah terhadap orang lain yang berbeda keyakinan dengan Anda
sehingga kita tidak bisa tidur nyenyak, kita salah dalam beragama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar